Jumat, 07 September 2012

TANDA TANDA HARI AKHIR



Tanda-Tanda Hari Akhir Di Masjidil Haram




"Belum akan datang kiamat sehingga manusia berlomba-lomba dengan bangunan-bangunan yang megah." (HR. Bukhari)











Akhukum fillah,tentunya Masjidil Haram tidak asing buat kita. Di sanalah lembah peradaban Islam bersinar ke seluruh bumi Allah ini. Lembah terjaga yang Insya Allah akan terjamin keamanannya hingga akhir zaman. Di sana ada Baitullah yang menjadi kiblat umat Islam sejagat, ke arah lembah inilah setiap saat wajah wajah mukminin mukminat terarah, menghadapkan wajahnya kepada simbol rumah Allah, Baitullah.
 













Namun ikhwahfillah,ada yang berbeda, di Masjidil Haram saat Ini. Mungkin kebanyakan orang biasa biasa saja melihat banyak perubahan di sekitar Masjidil Haram. Mungkin juga mereka tersenyum terkagum kagum melihat gedung-gedung mewah yang berdiri Kokoh di samping Masjidil Haram saat ini


Sungai Eufrat




REPUBLIKA.CO.ID, Rasulullah SAW bersabda, ‘’Hari Kiamat tak akan terjadi sebelum Sungai Eufrat mengering dan menyingkapkan 'Gunung Emas' yang mendorong manusia berperang. 99 dari 100 orang akan tewas (dalam pertempuran), dan setiap dari mereka berkata,  ‘Mungkin aku satu-satunya yang akan tetap hidup’.’’ (HR Bukhari).

Dalam riwayat lainnya, Rasulullah bersabda, ‘’Sudah dekat suatu masa di mana sungai Eufrat akan menjadi surut airnya lalu ternampak perbendaharaan daripada emas, maka barang siapa yang hadir di situ janganlah ia mengambil sesuatu pun daripada harta itu.’’ (HR Bukhari Muslim).

Imam Bukhari juga  meriwayatkan hadis lainnya, Rasulullah SAW bersabda, ‘’Segera Sungai Eufrat akan memperlihatkan kekayaan (gunung) emas, maka siapa pun yang berada pada waktu itu tidak akan dapat mengambil apa pun darinya. Imam Abu Dawud juga meriwayatkan hadis yang sama.

Dalam hadis itu, Rasulullah pernah  bersabda, bahwa sungai yang mengalir di tiga negara besar, Turki, Suriah, dan Irak itu pada saatnya nanti akan menyingkapkan harta karun yang besar berupa gunung emas. Selain itu, dalam kitab Al-Burhan fi `Alamat al-Mahdi Akhir az-Zaman, diungkapkan bahwa keringnya sungai Eufrat merupakan saat datangnya Al-Mahdi sebagai akhir zaman.

Hadis di atas membicarakan tentang Sungai Eufrat. Dalam bahasa Arab dikenal dengan nama Al-Furat atau air paling segar. Menurut Dr Syauqi Abu Khalil dalam Athlas Al-Hadith Al-Nabawi, Eufrat adalah sungai yang mengalir dari timur laut Turki.

‘’Sungai itu membelah pengunungan Toros, lalu melewati Suriah di kota Jarablus, melewati Irak di kota al-Bukmal, dan bertemu Sungai Tigris di Al-Qurnah yang bermuara di Teluk Arab,’’  ujar Dr Syauqi. Panjang sungai itu mencapai 2.375 kilometer. Dua anak sungainya, yakni Al-Balikh dan  Al-Khabur sudah mengering.



Pada saat Nabi Muhammad memprediksi masa depan Sungai Eufrat lewat sabdanya, wilayah subur di daerah mediterania itu masih dikuasai oleh dua kekuatan besar, Persia dan Bizantium. Sungai Eufrat adalah garis batas alami dari dua kerajaan tersebut.

Selain berada di kawasan Suriah  dan Iran, kekuasaan Persia ternyata juga mencakup daerah Yaman hingga daerah disekitar Laut Merah. Sedangkan Bizantium mencakup sebagian Suriah (bagian utara) dan Turki hingga ke Eropa.

Seiring perkembangan zaman, dengan kebangkitan Islam dan bersatunya daerah-daerah di Arab, dua kekuasaan besar itu mau tidak mau menjadi terpengaruh. Islam menjadi kekuatan baru dan mulai menunjukan taringnya pada masa Khalifah Abu Bakar.

Gesekan pun mulai terjadi. Persia maupun Bizantium tidak bisa lagi menganggap enteng kekuatan negara Islam.  Kaisar Persia sempat mengirimkan pasukan untuk menyerang Madinah. Bizantium juga menyerang kawasan utara kekuasaan negara Islam, yang mengakibatkan terbunuhnya Jenderal Muslim, Zaid bin Haris.









Pasukan Islam mulai menggenggam kemenangan pada masa Khalifah Umar bin Khattab. Saat itu, kekuatan negara Islam berada d iatas dua kerajaan besar yang sudah ada sebelumnya itu. Selama 10 tahun, beragam pencapaian dalam dunia militer didapatkan.

Pergerakan ke Suriah, negara yang dilintasi Sungai Eufrat, dimulai pada era Umar. Sebagaian daerah yang sebelumnya dikuasai oleh Bizantium akhirnya berhasil ditaklukkan kekuatan pasukan Muslim.

Sementara itu, Persia merasa khawatir. Mereka sudah kehilangan kekuatan pada kawasan perbatasn di sebelah barat Sungai Eufrat. Bebeberapa peperangan pun terjadi antara Kerajaan Persia dan pasukan Muslim. Pada akhirnya, Persia berhasil tunduk di bawah kekuasaan pemerintahan Islam.

Wilayah itu kemudian menjadi salah satu bagian penting bagi penyebaran agama dan peradaban Islam di seluruh dunia. Penaklukan terhadap Persia inilah yang juga menandai awal mula peradaban Islam di sisi sungai Eufrat.

      

Khalifah Umar bin Khattab kemudian membentuk wilayah-wilayah administratif untuk memudahkan proses pemerintahan. Beberapa wilayah itu adalah Makkah, Madinah, Syuriah, Jazirah (wilayah diantara Sungai Tigris dan Eufrat di Irak), Basrah, Khurasan, Azerbaizan, Persia, dan Mesir. Setiap gubernur di tempatkan di daerah itu.

 Mereka bertanggung jawab pada sang Khalifah. Pada masa-masa inilah, agama Islam juga menjadi kuat di daerah-daerah tersebut. Berkat kepemimpinan Umar, Islam sampai saat ini masih menjadi ideologi dan peradaban penting di daerah sekitar Sungai Eufrat. Namun dalam perkembangannya, apa yang telah diramalkan oleh Nabi Muhammad sepertinya mulai muncul.

Berbagai polemik soal ketersediaan air dari sungai tersebut selalu mencuat di antara tiga negara yang dilaluinya. Pembangunan DAM selalu menjadi permasalahan bagi negara-negara tersebut. Pembuatan DAM di Turki berpengaruh pada debet air yang mengalir di Suriah.

Pembuatan DAM di Suriah akan mempengaruhi air yang sampai di Irak. Meskipun belum sampai pada tahap peperangan, tetapi perdebatan soal air ini masih saja terjadi. Banyak orang mulai khawatir, bahwa ramalan Nabi Muhammad pada akhirnya menjadi kenyataan.

Ramalan itu telah disebutkan dalam hadis di atas, yakni Sungai Eufrat menjadi kering dan terjadi peperangan setelahnya. Kekhawatiran ini tampak dari banyaknya laman-laman yang mengungkap tanda-tanda akhir zaman terkait dengan keringnya sungai yang berakhir di Teluk Persia itu.



Rihanna

Di lagunya yang baru berjudul  Where Have You Been, terdapat simbol mata satu yang di peragakan oleh beberapa wanita, dan rihana sebagai pusat mata itu, perhatikan foto di bawah ini





kalau mau lihat video nya klik link di bawah ini.



Ini juga salah satu lagu Rihana yang berjudul Umbrella,, yang lebih dari 74 juta orang di seluruh duni melihat video ini,,





kalau mau lihat video nya klik link di bawah ini.


Ahmad Dani

  Pentolan grup dewa 19 ini adalah pendiri republik cinta manajeme, dia mempunyai videoklip yang tidak asing lagi di masarakat indonesia yang berjudul SATU, sama dengan rihana, ahmad dani juga mempunyai videoklip yang ber gambarkan mata satu di di setiap lirik yang ber ujapkan MU,,




kalau mau lihat video nya klik link di bawah ini



LADY GAGA

  
mothermonster julukan ini yang akrap di triakin para Little Monster (fans ledy gaga)
pada saat manggung di jakarta ( eh tidak jadi manggung ya ), 



Lady Gaga - Born This Way









Alejandro









Senin, 25 Juni 2012

Rahasia angka 11



Sekilas, angka 11 hanya sebuah angka yang tidak berarti banyak dan hanya seperti angka-angka lainnya. Akan tetapi ternyata angka 11 tersebut menyimpan misteri yang menyeramkan. Setelah anda membaca fakta-fakta dibawah ini barulah anda bisa merasakan merinding atas angka 11 tersebut.

1. Kota 'New York City' mempunyai 11 huruf.
2. Negara 'Afghanistan' mempunyai 11 huruf.
3. Nama teroris yang menyerang twin tower Amerika pada 1993, 'Ramsin Yuseb', mempunyai 11 huruf.
4. Nama Presiden 'George W Bush' mempunyai 11 huruf.
5. Gedung 'Twin tower' membentuk angka 11.

Kalau anda berpikir hal diatas hanyalah kebetulan, mari kita lihat lagi:

1. New York adalah negara bagian ke 11
2. Pesawat pertama yang menabrak gedung Twin Tower mempunyai nomor penerbangan 11.
3. Pesawat itu membawa 92 orang, 9+2 = 11.
4. Pesawat 1 lagi yang menabrak Twin Tower membawa 65 orang, 6+5= 11.
5. Insiden tersebut terjadi pada 11 September, 9/11, 9+1+1 = 11
6. Tanggalnya insiden tersebut adalah sama dengan pelayanan darurat Amerika yaitu 911, 9+1+1 = 11.

Masih kebetulan? baca ini lagi untuk membangkitkan pemikiran kamu :

1. Kejadian ini adalah kecelakaan pesawat ke 254, 2+5+4 = 11.
2. September 11 adalah hari ke 254 dlm tahun itu, 2+5+4 = 11.
3. Pemboman Madrid terjadi pada tgl 3/11/2004, 3+1+1+2+4 = 11.

Sudah mulai merinding bulu kuduknya? Kalau masih belum, cobalah ini:


Lakukan langkah-langkah ini di Miscrosoft Words :

1. Ketik Q33 NY, yang mana merupakan nomor penerbangan pesawat pertama yang menabrak gedung Twin Towers.
2. Highlight Q33 NY yang baru anda ketik tersebut.
3. Ubah ukuran Font menjadi 48.
4. Ubah jenis Font menjadi WINGDINGS 1

Minggu, 24 Juni 2012

SIMBOL DAJAL DI INDONESIA

UANG Rp.10.000


Ini bisa teman-teman praktekkan di uang 10 ribu rupiah milik teman masing-masing.Berikut caranya:
1. siapkan uang Rp.10.000 bergambar SUltan Machmud Badarudin
2.lalu lipat uangnya dari atas ke depan
3. lipat juga bagian bawah ke depan
4. lalu kita putar 180 derajat uang yang sudah kita lipat.






ATRIUM SENEN



BUNDAARN HI



UANG Rp.50.000


TMII



INDONESIA IDOL


Susunan Zaman



Simbol Coca Cola





PEPSI







 Mata Lelaki





 Metal






NickeLodeon






Trans TV




 Big Brother





Trans Studio Bandung








OVJ







Spongebob





Berikut teman teman, sebuah simbol dajal yang sudah tersebar di indonesia,
nantikan lagi gambar selanjutnya, thanks

Rabu, 28 September 2011

lagu DEWA dajal "AKU"

AKU

aku ini adalah dirimu
cinta ini adalah cintamu
aku ini adalah dirimu
jiwa ini adalah jiwamu
rindu ini adalah rindumu
darah ini adalah darahmu
tak ada yang lain selain dirimu
yang selalu ku puja
ku sebut namamu di setiap hembusan nafasku
ku sebut namamu, ku sebut namamu
dengan tanganmu aku menyentuh
dengan kakimu aku berjalan
dengan matamu aku memandang
dengan telingamu aku mendengar
dengan lidahmu aku bicara
dengan hatimu aku merasa

NOTE:   Di setiap kata mu di lirik lagu tersebut diikuti dengan mata satu, lihat fideo klipnya dewa

 klik di sini









HORUS, MITHRA, DAN YESUS

HORUS, MITHRA, DAN YESUS
Mungkin sedikit yang kenal dengan Mithra dan Horus tetapi seiring bacaan ini nanti juga kenal kok, kan tak kenal maka ta........'aruf, tentu ane akan cerita tentang kisah yesus, tentunya dengan singkat aja dan tentunya ceritanya bersumber dari Al-Kitab (PL dan PB), karena ane mau cerita tentang yesus bukan Isa AS. Yesus menurut keyakinan orang kristen adalah anak yang lahir dari perawan Maria (tentu umat islam sampai sini setuju), Yesus lahir tanggal 25 desember 1 Masehi (walaupun nyari dalilnya ga ada tuh), apa yang kita tahu tentang cerita Yesus ? Tentu cuma rujukan dari Cerita orang kristen. Kelahirannya ditandai kemunculan sebuah bintang di timur, dan di ikuti oleh tiga orang Majusi yang memberkati juru selamat baru. Yesus sudah menjadi guru pada umur 12 tahun dan di baptis oleh Yohanes si Pembaptis pada umur kira-kira (masih kira-kira dalam injil) umur 30 tahun dan mulai menyebarkan ajarannya. Yesus mempunyai 12 orang murid dan melakukan banyak mukjizat seperti : menyembuhkan orang sakit, berjalan diatas air dan menghidupkan orang mati. Julukan yang diberi ke Yesus adalah “Raja segala raja”, “Anak Tuhan”,”Juru selamat” de el el, Yesus dikhianati oleh muridnya yang benama Yudas Iskariot, Yudas dibayar oleh tentara Romawi seharga 30 keping perak, lalu Yudas berkata “Orang yang aku cium itulah Yesus”, setelah itu Yesus ditangkap, lalu di salib dan 3 hari setelah itu dia bangkit dan naik ke surga.
Sampai disini cerita tentang Yesus menurut orang kristen. Ana tidak akan memperdebatkan masalah alur cerita atau bentuk ceritannya yang ingin ana ceritakan adalah kisah Dewa kaum pagan begini ceritanya.


HORUS
Horus adalah Dewa orang Mesir lahir 3000 tahun SM, berarti cerita Horus sudah ada 3000 tahun sebelum Yesus lahir, Lalu bagaimana kisah dewa Horus ini ? Horus lahir dari perawan Isis-Meri tanggal 25 Desember, kelahirannya ditandai munculnya sebuah bintang dari timur dan kemudian untuk ditemukan 3 raja untuk dijadikan juru selamat baru. Umur 12 tahun telah menjadi guru, umur 30 tahun dibabtis oleh Anup, sejak itu iya mulai menyebarkan ajarannya. Horus mempunyai 12 murid yang menyertainya, iya mempunyai mukjizat menyembuhkan orang sakit, berjalan diatas air. Horus juga mempunyai julukan “Sang Cahaya”, “Anak tuhan yang diberkati”, “ Anak domba Tuhan” de el el. Setelah dikhianati oleh muridnya Taifun, Horus disalib dan tiga hari setelahnya bangkit lagi. Kalau antum mencoba mencari gambar Horus, antum akan menemukan gambar yang penuh, bagaimana Horus digambarkan bermuka burung dan ular cobra yang melingkar menggambarkan Horus itu dewa matahari. Dan dalam buku “DILEMA MAYORITAS”, di jelaskan bahwa kelompok zionis Illuminati menandakan sebuah negara dibawah pengaruh mereka dengan memberikan lambang dewa di negara tersebut, dan burung garuda adalah perlambangan dari dewa Horus (?).







MITHRA
Mithra adalah Dewa matahari yang paling terkenal dari Persia, lahir 1200 SM lahir dari perawan pada tanggal 25 Desember dan mempunyai 12 murid dan banyak melakukan keajaiban. Setelah kematiannya tiga hari setelah itu dia bangkit kembali. Dan yang paling terkenal untuk menyembah Dewa Mithra itu dilakukan setiap hari minggu atau sunday, sun = matahari, day = hari. Jadi hari khusus ibadah mereka hari minggu.
Itulah cerita dewa kaum pagan zaman dahulu, bagaimana cerita mereka mirip sekali dengan cerita Yesus sebagi Tuhan orang kristen, tentu masih banyak dewa lain lagi yang punya cerita mirip. Contoh :







ATTIS

Dewa dari Yunani Pirigia, lahir dari seorang perawan tanggal 25 Desember 1200 SM, mati disalib dan tiga hari setelahnya bangkit lagi.

















KRISHNA
 
Dewa dari India, lahir dari perawan Devaki lahir 900 SM, kelahirannya ditandai munculnya bintang dari timur, melakukan banyak mukjizat dengan para muridnya dan bangkit lagi setelah kematiannya.
















DIONYSUS
Dionysus daru Yunani lahir dari seorang perawan pada tanggal 25 Desember 500 SM, seorang guru yang melakukan perjalanan dan melakukan banyak mukjizat seperti mengubah air menjadi anggur, dikenal sebagai “Raja segala raja”, “Anak tuhan” de el el dan pastinya bangkit lagi dari kematian
Tentu masih banyak dewa orang pagan yang mungkin kalo diceritai semua pasti bosen karena inti cerita sama contoh :
Osiris dari Mesir, Baachus dari Yunani, Budha Sakia dari India, Salivana dari Bermuda, Odin dari Skadinavia, Indra dari Tibet, Bali dari Afganistan, Jao dari Nepal, Beddru dari Jepang, Gentaut dari Meksiko, Fohi dari Cina, Ixion dari Roma, Prometheus dari Kaukasus dan masih banyak bet dah
Dewa- Dewa yang lain yang punya cerita mirip semua... Dari Indonesia mungkin Dewa 19 ?
KENAPA SAMA ?
Kenapa ceritanya bisa sama ? Kenapa dilahirkan oleh perawan ? Tanggal 25 Desember ? Lalu bangkit lagi dari kematian ?. Menurut sebagian orang ini berkaitan dengan masalah matahari, musim dan kejadiannya.







      
Pertama masalah kelahiran yang sama itu karena mirip dengan ilmu perbintangan, bintang yang muncul disebelah timur adalah bintang Sirius (sirius lhoooo), bintang paling terang pada malam hari, pada tanggal 24 Desember dan Sirius sejajar dengan tiga bintang yang paling terang dari gugusan Orion, tiga bintang tersebut melambangkan tiga raja yang ada pada cerita yang diatas.
Ke empat bintang tersebut menunjuk ke arah terbitnya matahari pada tanggal 25 desember, oleh karena kenapa tiga raja selalu menunjukkan bahwa mereka menunjukkan awal terbitnya matahari. Lalu perawan atau virgin itu melambangkan bintang virgo, coba lihat lambang virgo? Gambarnya perawan memegang sebatang gandum, virgo dalam bahasa latin adalah virgin. Virgo juga bisa diartikan lumbung roti.
Yang menarik adalah fenomena yang terjadi tanggal 25 desember, yaitu titik balik matahari musim dingin ( hehe jangan pusing gitu donk, kan lumayan belajar astronomi), bila dilihat dari utara matahari terlihat makin ke bawah dan kebawah, otomatis terjadilah namanya musim dingin karena kurangnya cahaya matahari.
Sehingga proses musim dingin dianggap sebagai proses kematian untuk orang zaman baheula. Dianggap sebagai kematian matahari. Pada tanggal 22 desember matahari “mati” sepenuhnya. Dan hal yang menarik adalah matahari berhenti bergerak keselatan selama tiga hari (22,23,24) dan selama tiga hari itu matahari berada di “salib selatan” atau gugusan bintang Crux, nama nya juga salib yaaa bentuknya kaya gitu bintangnya.
Dan setelah itu tanggal 25 desember matahari bergerak 1 derajat ke utara, ini berarti membawa musim semi, kehidupan baru. Makanya dalam cerita matahari yang mati (tenggelam) selama tiga hari lalu bangkit (terbit) kembali. Tetapi masyarakat dulu tidak akan merayakan kebangkitan matahari hingga saat titik balik matahari musim semi, yaitu saat paskah, karena itu berarti matahari telah mengalahkan kejahatan secara sempurna. Itu baru masalah kelahiran dan kematian serta bangkit dari kematian, lalu kenapa harus mempunyai 12 murid ? 12 murid adalah simbol dari 12 rasi bintang zodiak, yang Yesus dan Dewa-Dewa lainnya digambarkan sebagai mataharinya.( Jadi yang suka baca ramalan zodiak termasuk orang pagan). Lalu masalah trinitas, Yesus yang masuk dalam trinitas (Bapa, Anak, Roh kudus), itu juga sudah ada dalam cerita Dewa pagan, Mithra adalah Oknum dari Tridewa (Mithra,Ahirman,Ohrzmad), Osiris Juga Oknum dari Tridewa (Osiris,Isis,Horus), Baachus juga Oknum dari Tridewa (Baachus,Apolos,Yupiter).
Penebusan dosa ? Dewa Mithra, Osiris, Baachus juga sama mati untuk menebus dosa umat manusia.
Jadi itulah penjelasan yang membingungkan (kalo nonton videonya mungkin agak ngerti deh), tapi mudah-mudahan antum ga bingung, coz, antum kan orang pinter (hehehehe, tok). Percayalah kalo antum dengar cerita Yesus yang disamakan dengan Isa atau Moses, Abraham, Loth, Daud, mereka hanya bisa menghina bukan memuji.
                 

Dinasti Rothschilds, Penopang Zionisme

Dinasti Rothschilds, Penopang Zionisme




"Berikan kepada saya kewenangan mencetak uang dan mengatur keuangan suatu negara, dan sesudah itu terjadi saya tidak perlu ambil peduli kepada para pembuat hukum di negara tersebut".
(Meyer Amschel Rothschild, 1743-1812, pendiri dinasti Rothschilds)

Berawal dalam Keadaan Papa


Siapa sebenarnya Rothschilds, atau persisnya dinasti Rothschilds, yang banyak disebut-sebut di dalam pembicaraan buku ini, yang kini disebut sebagai institusi raksasa keuangan Yahudi yang menguasai keuangan dunia? Untuk mengenal siapa Rothschilds kita perlu kembali menengok Eropa menjelang akhir abad ke-18.

Eropa pada waktu itu merupakan sebuah benua yang terdiri dari kumpulan kerajaan baik besar mapun kecil, ada sejumlah prinsipalitas, semacam kadipaten yang merdeka dan berdiri-sendiri, sisanya seperti Monaco dan Lichtenstein sekarang ini, namun ada juga negara kerajaan dalam artian yang sesungguhnya, yang secara terus-menerus terlibat dalam pertengkaran antara sesama mereka. Sebagian besar rakyatnya digolongkan sebagai 'kawula', yang tidak memiliki sarna sekali hak-hak politik. Kalaupun itu ada di tangan mereka, hak-hak yang tidak seberapa itu dapat ditarik balik oleh para tuan-tuan tanah 'pemilik' mereka setiap saat. Itulah Eropa pada abad ke-18.

Pada masa seperti inilah seorang pemuda Yahudi yang sederhana muncul di arena Eropa yang di kemudian hari akan memberikan dampak yang luar-biasa terhadap jalannya sejarah dunia, namanya ialah Amschel Mayer Bauer. Pada tahun-tahun selanjutnya berdasarkan pertimbangan yang matang namanya diubahnya, yang mencerminkan keterkaitan dengan kekayaan, kekuasaan, kewibawaan, dan pengaruh. Pemuda bemama Mayer Amschel Bauer ini adalah pendiri dinasti Rothschilds - seorang bankir sejati.

Mayer Amschel Bauer lahir di Frankfurt, Jerman, pada tahun 1743. Ia putera dari Moses Amschel Bauer, seorang lintah-darat dan tukang emas yang berpindah-pindah dari suatu temp at ke tempat yang lain. Setelah letih berkelana di Eropa Timur, akhimya ia rnemutuskan rnenetap di kota dimana putera pertamanya dilahirkan. Ia rnembuka sebuah kedai, persisnya kedai untuk pinjam-meminjamkan uang, di Judenstrasse (kampung Yahudi). Di atas pintu masuk kedai digantungkannya merk dagangnya, berupa sebuah Tameng Merah (bahasa Jerman - Rothschild).

Pada usia yang masih sangat rnuda Mayer Amschel Bauer Jr. telah mernperlihatkan kernarnpuan intelektual yang luar-biasa, dan sang ayah mengajari hampir sepenuh waktunya segala sesuatu yang diketahuinya tentang bisnis pinjam-meminjamkan uang, serta pengetahuan dan pengalaman yang diperolehnya dari berbagai sumber. Bauer sepuh sebenamya mengidamkan anaknya untuk dididik menjadi ulama Yahudi (Rabbi), tetapi ajal yang menjemputnya membuat idaman itu tidak pemah terwujud.

Beberapa tahun setelah meninggalnya ayahnya, Amschel Mayer Bauer muda bekerja sebagai kerani di suatu bank milik keluarga Oppenheimer di Hannover. Keunggulan kemampuannya cepat terlihat, dan kariemya melesat dengan cepat. Dia diberikan peluang sebagai mitra-muda dalam kepemilikan bank itu. Setelah ia kembali ke tempat kelahirannya di Frankfurt, ia membeli kembali bisnis yang telah dibangun ayahnya sejak tahun 1750. Tanda "Tameng Merah" yang ditinggalkan ayahnya temyata tetap menggelantung di atas pintu kedai itu. Untuk menghormati ingatan yang rnembekas kuat akan ayahnya yang tak pemah terlepas dengan merk dagang "Tameng Merah" itu, Bauer muda kernudian mengubah sepenuhnya nama keluarganya yang dianggapnya tidak cocok dengan impian besar bidang yang akan digelutinya dari Bauer (bahasa Jerman - "petani") menjadi Rothschilds, yang artinya "Tameng Merah". Sejak itu sebuah dinasti Rothschilds telah dilahirkan.

Basis pemupukan kekayaan dibangunnya pada dasawarsa 1760-an, ketika Amschel Mayer Rothschild muda rnembangun kembali koneksi dengan Jenderal von Estorff. Hubungan itu berkembang ketika ia mengabdikan-diri sebagai pesuruh bagi jenderal tersebut semasa masih sebagai karyawan di Oppenheimer Bank di Hannover.

Ketika Rothschild mengetahui jenderal yang kini ditugasi di istana Pangeran Wilhelm von Hanau memiliki hobi mengumpulkan jenis mata-uang yang langka, tanpa berpikir panjang lagi ia memanfaatkan situasi itu dengan sepenuh-penuhnya. Dengan jalan rnernpersernbahkan jenis-jenis mata-uang yang langka dengan harga miring ia membuka pintu persahabatan dengan sang jenderal dan beragarn punggawa di istana sang pangeran.

Pada suatu hari ia diperkenalkan langsung kepada Pangeran Wilhelm pribadi. Sang Pangeran membeli seonggok medali dan mata-uang langka darinya. Peristiwa ini merupakan transaksi pertama antara seorang Rothschild dengan seorang kepala sebuah negara. Dalam tempo yang tidak terlalu lama Rothschild berhasil mengembangkan bisnisnya dengan para pangeran lainnya.

Tidak lama kemudian Rothschild mencoba suatu taktik lain untuk menjamin koneksinya dengan berbagai pangeran setempat untuk mencapai tujuan-tujuannya. Ia menulisi mereka surat dengan menggosok sentimen kebanggaan para bangsawan seraya memohon akan perlindungan mereka. Surat-surat galibnya berbunyi sebagai berikut:

"Sungguh merupakan keberuntungan tersendiri telah dapat mengabdikan diri kepada Paduka Tuanku yang teramat mulia. Kiranya ketenangan dan kepuasan menyertai Paduka Tuanku yang mulia, hamba siap untuk mengerahkan segenap tenaga dan kekayaan hamba untuk dipersembahkan kepada Paduka Tuanku yang mulia bilamana saja Paduka Tuanku berkenan mengaruniakan titah Paduka Tuanku kepada hamba. Hadiah yang secara khusus sangat berarti ialah sekiranya Paduka Tuanku yang mulia berkenan mengaruniai hamba penugasan sebagai salah seorang abdi di dalam istana Paduka Tuanku. Hamba memberanikan diri menyampaikan hal ini dengan keyakinan hal itu tidak akan menyusahkan.." dst.nya

Taktiknya membuahkan hasil. Pada tanggal 21 September 1769 Rothschild berhasil memaku lambang prinsipalitas Hess-Hanau di depan kedainya sebagai lambang restu dari pangeran yang bersangkutan. Dengan huruf-huruf dari emas tulisannya berbunyi, "M.A.Rotschild. Dengan limpahan karunia ditunjuk sebagai abdi istana dari Yang Mulia Pangeran Wilhelm von Hanau".

Pada tahun 1770 Rothschild mengawini Gutele Schnaper yang masih berusia tujuh-belas tahun. Mereka dikarunia sepuluh orang anak, lima laki-laki dan lima perempuan. Putera-puteranya diberi nama Amschel III, Salomon, Nathan, Karlmann (Karl), dan Jacob ( James).

Sejarah mencatat bahwa Wilhelm von Hanau, "yang lambang kerajaannya terkenal di seantero Jerman sejak Abad Pertengahan", adalah seorang "pedagang daging manusia". Untuk suatu harga yang pantas, sang pangeran melalui ikatan darah yang kebetulan terkait erat dengan berbagai keluarga kerajaan di Eropa, dapat menyiapkan sepasukan tentara sewaan kepada kerajaan manapun. Langganan baiknya adalah kerajaan Inggeris, yang selalu kekurangan tentara, misalnya saja untuk keperluan menjinakkan koloni-koloninya di Amerika Utara.

Usaha sang pangeran memang sangat berhasil dengan bisnis tentara-sewaan itu. Tatkala ia mangkat ia meninggalkan warisan dalam jumlah yang tak ada taranya di Eropa pada masa itu, yaitu $ 200.000.000,-. Penulis biografi Rothschild, Frederic Morton, menggambarkan Pangeran Wilhelm von Hanau sebagai " Lintah-darat Eropah yang paling berdarah dingin".1 Rothschild di bidang ini bertindak sebagai dealer "ternak manusia" itu. Ia niscaya bekerja dengan sangat rajin dalam posisi itu, karena ketika Pangeran Wilhelm terpaksa harus melarikan diri ke Denmark, ia menghibahkan kepada Rothschild uang sejumlah tidak kurang dari 600.000 pound (senilai dengan $ 3.000.000,-) dalam bentuk deposito.


Fakta-fakta

Tentang versi lain yang terjadi dapat dibaca di dalam 'Jewish Encyclopaedia' , jilid 10, h.494, yang menulis, "Menurut ceritera dari mulut ke mulut, uang ini disembunyikan dalam guci-guci anggur, dan berhasil lolos dari penggerebekan tentara Napoleon ketika mereka menduduki Frankfurt, dan guci-guci itu ditemukan utuh pada tahun 1814, ketika para elektor (penguasa kota) menduduki elektorat itu kembali. Fakta-fakta itu agak kurang romantik, tetapi memang begitulah adanya."

Harap diperhatikan secara seksama kalimat terakhir di atas. Kalimat itu memuat makna yang penuh arti. Disini masyarakat Yahudi sendiri menjelaskan bagaimana Rothschild menyimpan uang yang $3.000.000.,- itu.

Jadi, apa yang sebenamya terjadi agaknya Rothschild telah melipat uang Pangeran Wilhelm. Bahkan sebelum uang itu sampai ke tangan Rothschild, uang itu tidak bersih (tidak 'kosher', atau halal). Uang itu berasal dari kerajaan Inggris yang dibayarkan kepada Pangeran Wilhelm, tetapi belum dibayarkan Rothschild kepada pasukan yang berhak untuk itu.

Dengan uang yang ditilep itu sebagai kapital dasar yang kokoh, Amschel Mayer Rothschild memutuskan untuk membuka usaha sendiri sebagai bankir intemasional yang pertama.


Lionel Nathan de Rothschild, 1808-1879, anak pertama dari Nathan Mayer Rothschild. Menikah dengan sepupunya, Charlotte, pada tanggal 15 Juni 1836. Beberapa hari kemudian ayahnya meninggal sehingga ia mewarisi NM Rothschild & Sons. Pada tahun 1875 membantu Kerajaan Inggris membiayai Terusan Suez. Di tahun 1858 menajdi orang Yahudi pertama yang memperoleh kursi di parlemen Inggris dan mendapat gelar “Lord“

Beberapa tahun sebelumnya Amschel Mayer Rothschild telah mengirimkan puteranya yang ketiga, Nathan, ke Inggris untuk mengelola bisnis keluarga di negara tersebut. Setelah tinggal sebentar di Manchester, dimana ia bekerja sebagai pedagang, Nathan, atas perintah ayahnya, pindah ke London dan mendirikan sebuah kantor yang berperan sebagai bank dagang. Agar kegiatan bisa berjalan, Rothschild memberikan kepada Nathan dana tiga juga dollar yang berasal dari hasil penilepan uang milik Pangeran Wilhelm Hess tadi.

'Jewish Encyclopaedia' 1905 menceriterakan Nathan menginvestasikan uang curian itu ke dalam "batangan emas dari East India Company, karena menyadari akan kemungkinan dibutuhkannya emas itu bagi kampanye Wellington di semenanjung (Iberia)". Dengan uang curian itu Nathan menghasilkan "tak kurang dari empat jenis keuntungan; (1) laba dari penjualan kertas-kertas berharga Wellington (yang dibelinya hanya seharga 50 sen untuk setiap kertas bernilai $1,-); (2) laba dari penjualan emas kepada Wellington; (3) laba dari pembelian emas itu kembali; dan (4) laba dari biaya pengiriman emas itu ke Portugal. Inilah awal dari keuntungan besar bagi dinasti tersebut"2. 'Jewish Encyclopaedia' mengakui bahwa keuntungan yang berhasil dihimpun oleh keluarga Rothschilds selama sekian tahun itu diperoleh dengan cara-cara tipu-menipu yang "lugas".


Jacob (James) Mayer de Rothschild, 1792-1868, menikah dengan keponakannya, betty, anak dari Salomon kakaknya. Pada saat perang Waterloo, Jacob tinggal di Paris dan mendirikan de Rothschild Freres yang tujuannya untuk meminjamkan uang ke pemerintahan-pemerintahan Eropa

Melalui akumulasi kekayaan yang luar-biasa dengan cara yang lihay, keluarga itu mendirikan cabang-cabang dinasti Rothschilds di Berlin, Wina, Paris, dan Napoli. Amschel Mayer Rothschild menempatkan seorang puteranya pada setiap tempat cabang usahanya. Anak sulungnya Amschel III ditempatkan dengan tanggung-jawab mengelola kantor cabang di Berlin; anak-kedua Salomon memegang kantor cabang Wina; Jacob (James) berangkat ke Paris, sedang Karlmann (Karl) membuka bank Rothschilds di Napoli. Kantor pusat dinasti Rothschilds, pada waktu itu hingga dengan sekarang, tetap berkedudukan di London.


Wasiat dari Amschel Mayer Rothschild

Ketika Amschel Mayer Rothschild meninggal dunia pada tanggal 19 September 1812, pendiri dinasti Rothschild itu meninggalkan sebuah wasiat yang ditulisnya hanya beberapa hari saja sebelum meninggalnya. Dalam wasiat itu ia menuliskan hukum khusus tentang bagaimana "dinasti" yang didirikannya itu harus menjalankan kegiatannya di masa depan. Hukum itu adalah sbb :

1. Semua posisi kunci yang ada pada dinasti Rothschilds hanya boleh diduduki oleh anggota keluarga, dan bukan oleh karyawan bayaran, dan hanya keturunan laki-laki dari keluarga yang diperkenankan dalam bisnis. Putera sulung dari putera sulung harus menjadi kepala keluarga, terkecuali bilamana mayoritas keluarga berpendapat lain. Karena alasan pengecualian inilah maka Nathan, yang memang sangat cerdas, ditunjuk sebagai kepala dinasti Rothschilds pada tahun 1812 itu.
2. Anggota keluarga hanya boleh kawin dengan saudara sepupu-sekali (satu kakek) atau paling jauh sepupu-dua kali (satu datuk). Dengan cara itu kekayaan keluarga dapat terpelihara agar tidak jatuh ke tangan orang lain. Aturan ini dengan taat diikuti pada masa awalnya, tetapi kemudian, tatkala keluarga bankir Yahudi kaya lainnya mulai bermunculan ke atas pentas dunia keuangan, aturan itu dikendurkan untuk memungkinkan beberapa dari keturunan Rothschilds mengawini anggota-anggota terpilih dari elit yang baru muncul tadi.
3. Amschel melarang keturunannya "dengan tegas, dalam keadaan apapun, membuat inventori publik oleh pengadilan, atau yang sejenisnya, terhadap kekayaan saya ... Saya juga melarang tindakan hukum apa pun dan publikasi apapun berkenaan dengan nilai kekayaan saya ... Siapa saja yang tidak mengindahkan ketentuan ini dan mengambil tindakan apapun yang bertentangan dengannya harus dengan segera dipandang menentang wasiat ini dan harus memikul segala konsekwensi karena tindakannya itu. "
4. Amschel Mayer Rothschild memerintahkan suatu kemitraan yang langgeng dengan menetapkan keturunan perempuan dari keluarga itu, termasuk para suami, dan anak-anak mereka, harus diberikan bagian dividen yang pantas dari hasil usaha keluarga, dan harus disesuaikan pula dengan peran dan kemampuan pihak laki-laki yang terikat karena perkawinan dengan keluarga Rothschilds. Mereka tidak diperbolehkan turut-serta mengambil bagian dalam manajemen bisnis usaha keluarga. Barangsiapa yang melanggar ketentuan ini akan kehilangan haknya dalam usaha keluarga.(Ketentuan terakhir ini secara khusus dirancang untuk menutup mulut orang yang mungkin berkehendak untuk melepaskan diri dari lingkaran keluarga. Amschel Mayer Rothschild jelas merasa ada banyak hal di bawah "karpet" keluarga yang tidak boleh diketahui).

Kekuatan dari dinasti Rothschilds terletak pada berbagai faktor penting, antara lain :
1. Kerahasiaan terhadap kontrak dan transaksi oleh bisnis keluarga harus dilakukan secara sangat ketat.
2. Kecerdikan dan instink memperkirakan atau memprediksi apa yang bakal terjadi di masa depan harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Segenap keluarga harus didorong untuk mengakumulasikan kekayaan dan kekuasaan.
3. Harus ada semangat mempertahankan, semacam "kenekadan", dalam semua usaha bisnis keluarga.

Penulis biografi tentang keluarga Rothschilds, Frederic Morton, menceriterakan bahwa Amschel Mayer Rothschild dan kelima puteranya adalah para "peramal" keuangan, dan "kalkulator pembunuh" yang bekerja berdasarkan "dorongan iblis" untuk merebut sukses dalam tiap kesepakatan bisnis rahasia mereka.


Edmond de Rothschild, 1845-1934, anak bungsu dari Jacob de Rothschild. Mewarisi perusahaan kereta api Est Railway yang bermarkas di Paris. Mengunjungi Palestina ri tahun 1895 dan sejak itu menjadi pendukung utama gerakan Zionisme termasuk mendanai pembuatan koloni-koloni Yahudi di Palestina

Pengaruh Talmud

Dari nara-sumber yang berwenang di atas masyarakat memperoleh informasi, "pada setiap Sabtu malam, tatkala kebaktian telah selesai di sinagoga, Amschel mengundang rabbi ke rumah mereka. Sambil duduk membungkuk di kursi hijau, mencicipi anggur, mereka berbincang-bincang sampai larut malam. Bahkan pada hari kerja pun ... Amschel ... mendaras Talmud ... dan seluruh anggota keluarga harus duduk dan mendengarkan dengan tertib.3

Tentang keluarga Rothschilds, dapat disimpulkan mereka adalah "keluarga yang mencari mangsa bersama, harus tetap kumpul bersama". Dan mereka memang memburu mangsa! Morton menjelaskan, sulit bagi orang biasa "untuk memahami keluarga Rothschilds, apalagi untuk memahami alasan mengapa mereka sedemikian bernafsu untuk menaklukkan orang lain tanpa puas-puasnya ". Kesemua puteranya dibuai dengan semangat kecerdikan dan penaklukan yang sama.


Lionel Walter Rothschild, 1868-1937, peraih gelar “Lord” kedua dalam keluarga besar Rothschild, merupakan anak pertama dari Lionel Nathan de Rothschild, pemegang gelar “Lord” pertama. Dialah Lord Rothschild yang dimaksud oleh Balfour dalam suratnya di tahun 1917 mengenai pendirian negara Yahudi

Keluarga Rothschilds tidak mempunyai sahabat atau sekutu yang sejati. Pergaulan mereka tidak lebih daripada sekedar berkenalan yang kelak dimanfaatkan untuk mencapai kepentingan dinasti Rothschilds, dan melemparkan mereka ke dalam tempat sampah sejarah begitu mereka telah memenuhi tujuan atau telah tidak lagi memberikan manfaat.

Kebenaran tentang pernyataan ini dipamerkan di salah satu alinea dari buku Frederic Morton. Ia menggambarkan bagaimana pada tahun 1806, Napoleon menyatakan bahwa "telah menjadi tujuannya untuk mengikis habis dinasti Hess-Cassel dari kekuasaan dan menghapusnya dari daftar penguasa".

"Jadi orang paling kuat di Eropa telah mengeluarkan dekrit penghapusan batu-karang di atas mana usaha keluarga Rothschilds yang baru didirikan berada. Meski demikian, kesibukan tidak berkurang di kedai "Tameng Merah" ... Rothschilds masih tetap duduk, kokoh, tak tergoyahkan, surat-surat tetap bertumpuk di atas meja. Mereka tidak peduli apakah perang atau damai, demikian juga slogan atau manifesto, atau perintah harian, tidak juga ancaman kematian atau kejayaan. Mereka tidak mempedulikan semua hingar-bingar dunia. Mereka memandangnya hanya sebagai sekedar batu loncatan. Pangeran Wilhelm satu diantaranya. Napoleon akan menjadi korban berikutnya".4

Aneh? Tidak juga! Dinasti Rothschilds tengah mebantu diktator Perancis itu, dan sebagai hasilnya, ia mendapatkan akses bebas ke pasar Perancis pada setiap saat. Beberapa tahun kemudian, ketika Inggris dan Perancis yang bermusuhan saling memblokade pantai lawan masing-masing, satu-satunya armada dagang yang diizinkan untuk menerobos blokade itu, hanyalah armada Rothschilds. Keluarga ini membiayai kedua pihak yang bermusuhan itu.

"Efisiensi yang menggerakkan putera-puitera Amschel memungkinkan "cuci gudang ekonomi" yang luar biasa: penghapusan pembukuan keuangan yang mati; merenovasi struktur kredit lama dan restrukturisasi kredit; pembentukan cara penyaluran dana segar melalui - tidak termasuk lima bank Rothschilds yang berbeda-beda di lima negara - 'clearing house' baru; menemukan metoda pengganti terhadap cara pengiriman batangan emas yang tidak hemat melalui suatu sistem debit dan kredit dengan lingkup sejagat. Salah satu sumbangan mereka adalah teknik baru dari Nathan yang mengapungkan pinjaman internasional. Ia tidak terlalu peduli dengan penerimaan dividen dalam berbagai rupa mata-uang yang asing dan merepotkan."

"Kini Nathan menciptakan sumber investasi paling kuat pada abad ke sembilan-belas dengan cara menciptakan bond asing dalam pound sterling"5.


Peran Palagan Waterloo (18 Juni 1815) terhadap Bisnis Rothschilds

Begitu kekayaan dan kekuasaan keluarga Rothschilds berkembang, baik dalam jumlah maupun pengaruhnya, begitu pula jaringan intelijen mereka. Mereka menyebarkan "agen-agen" mereka yang secara stratejik ditempatkan pada semua ibukota serta bandar pusat perdagangan Eropa. Tugas agen-agen ini menghimpun dan mengembangkan berbagai jenis intelijen. Sebagaimana semangat kerja keluarga Rothschilds, intelijen mereka didasarkan dan dikendalikan berdasarkan paduan kerja-keras dan kecerdikan tinggi.

Sistem spionase yang unik ini bermula ketika "anak-anak" mulai saling mengirimkan pesan kepada satu sarna lain melalui suatu jaringan kurir. Tidak lama sistem itu berkembang menjadi lebih canggih, lebih efektif, dan berkonsekwensijauh. Sistem itu merupakan suatu jaringan spionase yang 'par excellence'. Kecepatan dan efektivitasnya yang menakjubkan memberikan keluarga Rothschilds gambaran yang lebih jernih dalam semua kesepakatan bisnis yang mereka buat pada tingkatan internasional.

"Kereta-kereta Rothschilds meluncur di jalan-jalan darat; perahu-perahu layar Rothschilds bolak-balik di Selat Channel; agen-agen Rothschilds bergerak cepat dalam bayangan di jalan-jalan. Mereka membawa uang tunai, surat-surat berharga, laporan, dan berita. Di atas segala-galanya - ialah berita - berita eksklusif mutakhir yang diproses dengan kecepatan tinggi di pasar saham dan bursa komoditas. Dan tidak ada berita yang lebih berharga daripada hasil akhir Waterloo ..."6

Pada palagan Waterloo yang berlangsung pada tahun 1815 antara Perancis melawan kerajaan-kerajaan Eropa di bawah pimpinan Inggris, hasil palagan ini akan menentukan masa depan benua Eropa. Sekiranya Grande Armee de France Napoleon tampil sebagai pemenang, maka Perancis akan menjadi yang dipertuan atas daratan benua Eropa yang dikuasainya tanpa dapat disangkal oleh siapa pun. Tetapi, sekiranya dapat Napoleon dihancurkan dan bertekuk lutut kepada Inggris, maka Inggris akan penguasa keuangan di Eropa, dan akan menduduki posisi kuat untuk memperluas lingkup pengaruh imperiumnya ke seluruh jagad.

Penulis sejarah John Reeves, seorang pengagum keluarga Rothschilds, menulis dalam bukunya 'The Rothschilds, Financial Rulers of the Nations', pada tahun 1887, di halaman 167, bahwa "salah satu dari suksesnya (Nathan) adalah kerahasiaan yang menyelimuti dirinya, serta kebijakannya yang menyakitkan, yang senantiasa berhasil mendesepsi mereka yang mencoba mengamatinya terlampau rajin".

Ada keuntungan - dan ada pula kerugian - yang diperoleh sebagai akibat Waterloo. Pasar bursa di London benar-benar sedang meriang, ketika para pialang bursa menanti-nantikan berita akhir pertarungan kedua raksasa itu. Bila Inggris sampai kalah, ekonomi Inggeris akan terpuruk ke jurang yang tak terbayangkan dalamnya. Bila Inggris berhasil menang, ekonomi sebaliknya akan meloncat ke puncak.

Begitu kedua tentara saling mendekat untuk memasuki palagan maut, Nathan Rothschild memerintahkan agen-agennya yang berada di kedua belah front mengumpulkan informasi yang seakurat mungkin begitu pertempuran dimulai. Agen-agen tambahan dari Rothschilds bersiaga untuk menyampaikan laporan intelijen kepada pos komando Rothschilds yang digelar di tempat yang cukup dekat dan stratejik.

Pada petang-hari tanggal 15 Juni 1815, seorang wakil Rothschilds tampak melompat ke atas sebuah perahu yang dicharter khusus, dan berlayar melalui Selat Channel menuju pantai Dover, di Inggeris. Ia membawa sebuah laporan sangat rahasia dari dinas rahasia Rothschilds berkenaan dengan kemajuan palagan yang menentukan itu. Data intelijen itu akan membuktikan bagi Nathan sebagai bahan informasi yang tak dapat diabaikan dalam rangka mengambil keputusan-keputusan yang vital.

Agen khusus itu dijemput di Folkstone pada subuh keesokan harinya oleh Nathan Rothschild pribadi. Setelah secara cepat membaca pokok-pokok penting dari isi laporan itu Nathan Rothschild kembali bergegas menuju London dan langsung ke pasar bursa.


Kerahasiaan dalam berkorespondensi antar-saudara Rothschild di saat itu dilaksanakan dengan cara berpikir dalam bahasa Jerman dan menulisnya dalam bahasa In\brani, ditambah dengan kode-kode dan istilah-istilah untuk klien-klien dan pejabat-pejabat negara


Coup de Coup

Nathan Rothschild tiba di pasar bursa di tengah-tengah suasana spekulasi yang simpang-siur mengenai hasil-akhir dari palagan yang tengah berlangsung di Waterloo. Nathan berdiri di tempat kebiasaannya, di samping "Pilar Rothschilds". Tanpa memperlihatkan emosi di wajahnya, tanpa ada perubahan apa pun pada air mukanya, muka-kaku, mata agak memejam, bos dari dinasti Rothschilds itu memberikan sebuah isyarat yang telah ditentukan kepada agen-agennya yang berdiri di dekatnya.

Agen-agen Rothschilds segera mulai menumpahkan surat-surat berharga mereka ke pasar. Begitu kertas-kertas berharga bernilai ratusan ribu dolar dilemparkan ke lantai pasar nilainya dengan cepat merosot drastik.

Nathan tetap menyandar pada "pilar-"nya, tetap tanpa emosi, tanpa ekspresi. Ia tetap menjual, menjual, dan terus menjual. Nilai kertas-kertas berharga bertumbangan. Bisik-bisik mulai menyusup di tengah-tengah pasar bursa London. "Rothschilds sudah mengetahui ! Rothschilds sudah mengetahui ! "Wellington kalah di Waterloo !"

Penjualan itu berubah menjadi panik ketika semua orang mulai turut menumpahkan kertas-kertas mereka yang "tak ada harganya", demikian juga uang kertas, emas atau perak, dengan harapan paling tidak berusaha untuk mempertahankan kekayaan yang masih tersisa di tangan. Kertas-kertas berharga terus menukik tajam ke bawah. Setelah beberapa jam perdagangan yang menyakitkan itu terjadi, kertas-kertas berharga itu berserakan di lantai bursa bagai onggokan sampah. Harganya tidak lebih dari lima sen untuk setiap obligasi atau sekuritas yang senilai dengan harga satu dolar.

Nathan Rothschild, tetap tanpa emosi seperti biasanya, masih menyandar pada "pilar"-nya. Ia kini memberikan isyarat secara halus. Tetapi isyarat itu kini sudah berbeda. Isyarat itu perbedaannya begitu halus, sehingga hanya agen-agen Rothschilds yang telah sangat terlatih yang dapat memahami adanya perubahan. Sesuai petunjuk bos mereka, belasan agen Rothschilds melesat ke meja-meja yang ada di sekeliling lantai pasar bursa dan membeli setiap lembar kertas berharga yang teronggok hanya dengan senilai sebuah "siulan".

Tidak berapa lama kemudian berita "resmi" tiba di ibukota Inggris. Inggris kini telah menjadi yang dipertuan di medan Eropa. Hanya dalam beberapa detik nilai kertas-kertas berharga tadi meroket melampaui harga aselinya yang semula. Begitu makna dari kemenangan Inggris itu mulai merasuk ke dalam kesadaran publik, nilai kertas-kertas berharga itu meningkat semakin tajam. Napoleon telah menerima nasib "Waterloo"-nya. Nathan Rothschild berhasil memegang kontrol atas ekonomi Inggeris. Hanya dalam tempo semalam, kekayaannya yang sudah luar bias a itu berlipat dua-puluh kali daripada nilai sebelumnya.


Pembersihan di Perancis

Menyusul kekalahan telaknya di Waterloo, Perancis berupaya untuk membenahi ekonominya. Pada tahun 1817 mereka menegosiasikan sejumlah besar pinjaman melalui sebuah bank Perancis yang cukup bergengsi milik keluarga Ouvrad, dan dari bankir Inggeris terkenal Baring Brothers of London. Rothschilds dibiarkan tidak termasuk.

Tahun berikutnya pemerintah Perancis membutuhkan lagi pinjaman baru. Begitu surat-surat berharga yang dikeluarkan dengan bantuan Ouvrad dan Baring Brothers pada tahun 1817 naik nilainya di pasar bursa Paris serta di tempat-tempat pusat finasial di Eropa, maka nampak dengan jelas pemerintah Perancis akan memelihara jasa-jasa dari kedua bank terkemuka ini. Rothschilds bersaudara mencoba dengan segala akal yang ada pada mereka untuk membujuk pemerintah Perancis menyerahkan bisnis itu kepada mereka. Namun usaha mereka gagal.

Para bangsawan Perancis yang terbiasa membanggakan keanggunan dan keunggulan darah mereka, memandang keluarga Rothschilds tak lebih daripada petani-petani (nama-lama keluarga Rothschilds sebelum diubah adalah 'Bauer' - petani) yang tidak kenaI basa-basi, para pemula yang sebaiknya tetap di tempat mereka saja. Kenyataan bahwa keluarga Rothschilds menguasai sumber-sumber keuangan yang luas, tinggal di gedung-gedung yang mewah, dan mengenakan pakaian dari bahan yang paling anggun dan mahal, tidak membuat para bangsawan Perancis yang sangat sadar dengan kelas mereka itu bergeming. Keluarga Rothschilds dipandang sebagai lapisan yang tidak mengenal sopan-santun. Mengingat akan catatan sejarah, pandangan mereka tentang generasi pertama Rothschilds tidaklah terlalu jauh dari persepsi tadi. Salah satu dari persenjataan utama dalam gudang arsenal Rothschilds yang terlewatkan dan diabaikan oleh Perancis adalah - kecerdikan mereka dalam menggunakan dan memanipulasikan uang.

Pada tanggal 5 Nopember 1818 sesuatu yang sarna sekali tak pemah terduga terjadi. Setelah setahun mengalami stabilitas, nilai obligasi pemerintah Perancis mulai merosot. Tiap hari kemerosotan nilainya makin kentara. Dalam tempo yang singkat sekuritas pemerintah yang lain menderita nasib yang sarna pula. Suasana di istana Louis XVIII menjadi tegang. Para bangsawan dengan wajah kusam mulai mengkhawatiri nasib negaranya. Mereka mengharapkan yang terbaik, tapi mengkhawatirkan juga yang terburuk yang mungkin datang. Orang yang tidak terlalu peduli dengan keadaan buruk itu hanyalah James dan Karl Rothschild. Mereka tersenyum, tanpa sepatah kata pun keluar dari mulut mereka.

Pelan-pelan suatu kecurigaan mulai muncul dalam benak beberapa pengamat. Jangan-jangan kedua Rothschilds bersaudara itu adalah penyebab dari nestapa negeri mereka. Jangan-jangan merekalah yang secara rahasia memanipulasi pasar saham dan merekayasa kepanikan yang terjadi.

Selama bulan Oktober 1818 para agen Rothschilds dengan menggunakan dana cadangan bosnya yang nyaris tanpa batas membeli sejumlah besar surat-surat berharga pemerintah Perancis melalui saingan mereka Ouvrad dan Baring Brothers. Tindakan ini menyebabkan surat-surat berharga itu meningkat nilainya. Kemudian pada tanggal 5 Nopember 1818 mereka mulai melakukan dumping terhadap kertas-kertas berharga itu di pasar terbuka di pusat-pusat komersial utama Eropa, dan menggiring pasar ke dalam kepanikan.

Sejak itu istana Aix berubah. Keluarga Rothschilds akhirnya memperoleh undangan untuk menghadap raja. Mereka kini menjadi pusat perhatian. Busana yang mereka kenakan adalah haute couture, fashion tingkat tinggi. Sejak itu "uang mereka menjadi idaman para peminjam terbaik". Keluarga Rothschilds berhasil memegang kontrol atas ekonomi-keuangan Perancis dan permainan itu namanya "kontrol keuangan" !

Benjamin Disraeli, perdana menteri Inggeris pada waktu itu, menulis sebuah novel berjudul 'Coningsby'. The Jewish Encyclopaedia, jilid 10, ha1.501-502, menggambarkan buku itu sebagai "gambaran ideal tentang Imperium Rothschilds". Disraeli menggambarkan Nathan Rothschild (dalam hubungan dengan keempat saudaranya) sebagai "pangeran dan pemimpin pasar uang dunia, dan juga, pangeran dan pemimpin dalam bidang apa saja. Secara harfiah ia bahkan memegang kendali atas pendapatan Italia Selatan, sementara para raja dan menteri dari seluruh kerajaan (Eropa) memohon nasihatnya dan menjalankannya sesuai dengan saran-sarannya".


Jangan Terdengar - Jangan Terlihat

Kup keuangan yang dilakukan oleh keluarga Rothschilds di Inggeris pada tahun 1815, dan di Perancis tiga tahun kemudian, hanyalah dua contoh dari sekian banyak yang mereka lakukan di seluruh dunia bertahun-tahun. Meski demikian ada perubahan dalam taktik yang dipakai untuk merampok uang publik yang mereka cari dengan susah payah. Dari cara terbuka dalam memanfaatkan dan mengeksploitasi bangsa-bangsa, keluarga Rothschilds secara berangsur-angsur surut ke dalam keremangan, dan kini beroperasi melalui dan di belakang berbagai jenis tirai. Pendekatan "modern" mereka, sebagaimana dijelaskan oleh penulis biografi Frederic Morton, berbunyi "keluarga Rothschilds gemar dengan kegemerlapan. Namun dengan rasa pedih keluarga Rothschild yang memendam nafsu ambisius yang tinggi itu terpaksa menikmati kegemerlapan itu hanya di dalam kamera, untuk dan di antara keluarga mereka saja".

"Kecenderungan untuk menyembunyikan diri itu tumbuh baru-baru ini saja. Pendiri dinasti itu telah melakukannya pada waktu yang silam; tetapi putera-puteranya ketika menyerbu benteng-benteng pusat kekuasaan Eropa, membawa serta segala macam senjata termasuk publisitas yang paling kasar sekalipun. Kini keluarga itu itu menyelimuti kehadiran mereka dengan kesenyapan, tak-terdengar dan tak-terlihat. Sebagai hasilnya, sebagian orang menyangka sekarang ini tak banyak yang tersisa dari apa yang pernah menjadi legenda di masa silam. Dan keluarga Rothschilds sangat puas membiarkan legenda itu tetap hidup di kalangan masyarakat luas. Hal ini ditempuh untuk menimbulkan bahwa mereka beroperasi dalam kerangka 'demokrasi', dengan tujuan untuk menipu, dan mengalihkan perhatian dari kenyataan bahwa tujuan mereka yang sebenarnya adalah untuk menyingkirkan semua jenis kompetisi dan menciptakan monopoli dunia.".7


Daftar Pustaka

1. Frederic Morton, 'The Rothschilds', Fawcett Crest, New York, 1961, h.40.
2. Ibid. h.494.
3. Ibid. h.31.
4. Ibid. h. 38, 39.
5. Ibid. h. 96.
6. Ibid. h.94.
7. Ibid. h.18, 19.

Pembentukan Tata Dunia Baru (Novus Ordo Secrolum) Melalui Kekuasaan Keuangan

Pembentukan Tata Dunia Baru (Novus Ordo Secrolum) Melalui Kekuasaan Keuangan



"Kemenangan kita diperoleh dengan lebih mudah berdasarkan kenyataan bahwa dalam hubungan dengan mereka yang kita inginkan, kita selalu bekerja pada simpul-simpul yang paling peka pada pikiran manusia, pada rekening tunai, pada nafsu manusia, pada ketidak-puasan manusia akan kebutuhan materiel; pada setiap kelemahan manusiawi ini, ia sudah cukup untuk melumpuhkan prakarsa, karena ia menyerahkan kemauan manusia kepada disposisi dia yang telah membeli kegiatan kegiatannya".
('Protokol yang Pertama')


IMF dan Bank Dunia

IMF (the lnternational Monetery Fund) dan Bank Dunia adalah lembaga dana moneter intemasional yang dalam missinya disebutkan untuk memberikan bantuan kepada negara-negara yang tengah mengalami kesulitan likuiditas keuangan atau menghadapi masalah moneter. Dalam kenyataannya IMF, dan Bank Dunia, yang saham mayoritasnya sebesar 51 % dikuasai oleh departemen keuangan Amerika Serikat.

John Reed, CEO Citigroup dan Sandy Weil, CEO Traveler’s Group., mengucapkan selamat datang kepada Robert Rubin, mantan menteri keuangan di era presiden BillClinton. Rubin bergabung dengan Citigroup pada bulan Oktober 1999

Yang telah kita ketahui ialah bagian terbesar dari saham the Fed dikuasai oleh para bankir raksasa Yahudi. Dengan uang-kertas dolar yang ongkos cetaknya, tidak peduli berapa pun nilai denominasinya di lembaran itu, hanyalah 3 sen dolar per lembar, praktis the Fed memiliki kekuasaan atas keuangan dunia hampir-hampir tanpa biaya. Meski ada beberapa kekeliruan pandangan tentang IMF dan Bank Dunia, tetapi tidak dapat disangkal bahwa keduanya, baik IMF maupun Bank Dunia, merupakan dua instrumen kekuasaan yang digunakan oleh Barat (baca : kelompok Zionis) untuk menghancurkan negara-negara yang berdaulat agar menjadi tidak lebih daripada sekedar teritori (ekonomi-keuangan) mereka, yang pada gilirannya akan kehilangan kedaulatan politik mereka.

Tatkala suatu missi IMF memasuki suatu negara, mereka sebenarnya tidak lain menjalankan rancangan untuk penghancuran lembaga-lembaga sosial-ekonomi di balik dalih persyaratan untuk meminjamkan uang. Menurut Joseph Stiglitz, mantan Kepala Tim Ekonom Bank Dunia, IMF biasanya mengembangkan program empat langkah.

Langkah pertama adalah program' Privatisasi' , yang menurut Stiglitz lebih tepat disebut dengan nama program 'Penyuapan'. Pada program ini perusahaan-perusahaan milik negara penerima bantuan IMF harus dijual kepada swasta dengan alasan untuk mendapatkan dana tunai segar. Pada tahapan ini menurut Stiglitz, "Kita bisa melihat bagaimana mata para pejabat keuangan di negara penerima bantuan itu terbelalak, tatkala mengetahui prospek 'pemberian' 10% komisi beberapa milyar dolar yang akan dibayarkan langsung ke rekening pribadi yang bersangkutan di suatu bank Swiss, yang diambilkan dari harga penjualan aset nasional mereka tadi".

Sebagai contoh, dimana pemerintah Amerika Serikat (harap dicatat departemen luar negeri, departemen pertahanan, dan departemen keuangan, sepenuhnya dikuasai oleh orang-orang Yahudi), terlibat dalam kasus "penyuapan" terbesar yang pernah ada, pada program "privatisasi" di Rusia pada tahun 1995, ketika pemerintah Amerika Serikat (Yahudi) menghendaki Yeltsin terpilih lagi. "Kami tidak peduli kalau pemilihan itu adalah pemilihan yang korup. Kami ingin uang itu sampai ke tangan Yeltsin melalui 'bawah-meja' untuk keperluan kampanyenya". Yang paling menyakitkan hati bagi Stiglitz bahwa oligarchie Rusia yang didukung oleh Amerika Serikat itu menyapu habis aset industri BUMN Rusia dengan akibat, korupsi tersebul memotong pendapatan nasional Rusia tinggal hampir separuhnya saja yang menyebabkan depresi ekonomi dan kelaparan.

Sesudah program "penyuapan" itu langkah kedua IMF/Bank Dunia adalah rencana "satu-ukuran-(yang) pas - untuk menyelamatkan ekonomi anda" ('all size - economic solution '), yaitu "Liberalisasi Pasar Modal". Dalam teorinya deregulasi pasar modal memungkinkan modal investasi mengalir keluar-masuk. Namun, dengan ditingkatkannya pemasukan modal investasi dari luar, pada gilirannya akan menyebabkan pengurasan cadangan devisa negara yang bersangkutan untuk mendatangkan aset melalui impor dari negara-negara yang ditunjuk oleh IMP. Malangnya lagi, dalam kasus Indonesia dan Brazil, lagi-lagi menurut Stiglitz, modal itu hanya keluar dan keluar, tidak pernah balik.

Stiglitz menyebut program "privatisasi" ini sebagai daur "uang panas". Dana tunai dari luar masuk untuk spekulasi di bidang real-estate dan valuta, kemudian hengkang bila ada tanda-tanda akan ada kerusuhan. Akibat dari yang pertama di atas dan kedua ini, cadangan devisa negara bisa habis menguap dalam ukuran hari, bahkan jam. Dan bilamana hal itu sampai terjadi, maka untuk merayu kaum spekulan untuk mau mengembalikan dana modal nasional, IMF menuntut negara-negara debetor ini menaikkan suku-bunga banknya menjadi 30%, 50%, hahkan 80%. Ketetapan itu diikuti dengan persyaratan kebijakan deregulasi peraturan perbankan, diberlakukannya kebijakan uang ketat ('austerity policies'), dihentikannya subsidi pada bidang-bidang yang berkaitan dengan kebutuhan sosial-ekonomi masyarakat. Pada negara-negara yang sedang berkembang, dimana program pcmbangunan bagian terbesar masih menjadi tanggung-jawab negara, pemberlakuan politik uang ketat berdampak buruk terhadap kehidupan sektor riel. Penghentian subsidi terhadap sektor strategis seperti pangan, bahan bakar, transportasi, pendidikan, dan sebagainya selalu berakhir dengan krisis politik di negara-negara yang bersangkutan.

"Hasilnya bisa diprediksi", kata Stiglitz mengomentari tentang gelombang pasang uang panas di Asia dan Amerika Latin. "Suku bunga yang tinggi menghancurkan nilai properti, memangsa produksi industri, dan mengeringkan dana nasional".

Pemasukan modal investasi dari luar, meskipun tampaknya membantu untuk memperluas kesempatan kerja, dalam kenyataannya persyaratan itu telah membunuh usaha bumiputera setempat, yang pada gilirannya jatuh bergelimpangan, karena belum mampu bersaing khususnya untuk pemasaran. Acapkali kebijakan seperti itu berakibat dengan penutupan pabrik-pabrik, karena pemerintah tuan-rumah dan sektor swasta domestik tidak cukup memiliki modal. Contoh paling mutakhir adalah bangkrutnya ekonomi Argentina pada bulan Januari 2002 yang menimbulkan situasi kekacauan politik dan sosial.

Pada tahapan ini IMF menarik negara debetor yang tengah megap-megap itu ke langkah ketiga, yaitu "Pricing - Penentuan Harga Sesuai Pasar", sebuah istilah yang muluk untuk program menaikkan harga komoditas strategis seperti pangan, air bersih, dan BBM. Tahapan ini sudah dapat diprediksi akan menuju ke langkah tiga-setengah, yaitu apa yang dinamakan oleh Stiglitz, "Kerusuhan IMF".

"Kerusuhan hasil ciptaan IMF" itu sudah bisa diprediksikan dan sangat menyakitkan hati. Tatkala suatu negara sudah jatuh pingsan (IMF) akan mengambil keuntungan dan memeras sampai tetes darah terakhir yang masih ada pada negara debetor. Suhu akan terus meningkat, dan pada saatnya ketel itu meledak", seperti halnya ketika IMF, menurut Stiglitz, mengharuskan menghapus subsidi untuk beras dan BBM bagi kaum miskin di Indonesia pada tahun 1998. Indonesia meledak dengan kerusuhan. Dan masih ada contoh kasus lain - kerusuhan di Bolivia, sehubungan dengan kenaikan tarif air bersih pada tahun 2001, dan pada bulan Februari 2002 kerusuhan di Ekuador karena kenaikan harga gas dapur yang diperintahkan oleh Bank Dunia. Kesan yang ada ialah kerusuhan itu memang direncanakan.

Dan memang begitu. Apa yang tidak diketahui Stiglitz, bahwa BBC dan koran the Observer, London, berhasil memperoleh beberapa dokumen dari kalangan dalam Bank Dunia, yang diberi cap 'Confidential', 'Restricted', dan 'Not to be Disclosed'. Salah satu di antara dokumen-dokumen itu adalah apa yang disebut 'Interim Country Assistance Strategy' ('Strategi Bantuan Sementara') untuk Ekuador. Di dalam dokumen itu Bank Dunia beberapa kali menjelaskan - dengan ketepatan yang mendirikan bulu roma - bahwa mereka mengharapkan rencana mereka akan menyalakan "kerusuhan sosial", begitu istilah birokrasi terhadap negara yang terbakar.

Hal itu tidak perlu membuat kaget. Laporan rahasia itu mencatat, rencana itu dimaksudkan agar nilai mata-uang Ekuador dengan dolar Amerika akan mendorong 51 % dari penduduk Ekuador agar berada di bawah garis kemiskinan. Rencana "Bantuan" Bank Dunia di dalam laporan itu semata-mata menyeru untuk "meredakan tuntutan dan penderitaan rakyat" dengan "penyelesaian politik" -tanpa menyinggung aspek ekonomi dan harga-harga yang kian melambung

"Kerusuhan IMF" (yang dimaksudkan dengan 'kerusuhan' disini ialah demonstrasi damai yang dibubarkan dengan gas air-mata, peluru, dan tank), menyebabkan panik baru yang berakibat dengan pelarian modal ('capital flight') dan kebangkrutan pemerintah setempat. Kebakaran ekonomi ini mempunyai sisi terangnya - untuk perusahaan perusahaan asing, yang yang mendapatkan kesempatan menyabet sisa aset negara yang sedang kacau-balau itu, seperti konsesi pertambangan, perbankan, perkebunan, dan lain sebagainya dengan harga obral-besar-besaran. Contoh ini terlihat pada kepanikan pemerintah Indonesia yang melakukan "divestasi" degan harga obral-obralan pada BCA ('Bank Central Asia'), bank paling berhasil di Indonesia, pabrik semen, perkebunan kelapa sawlt, bisnis telekomunikasi, dan sebagainya, yang kesemuanya sebenamya merupakan "tambang emas" ('money-machines') bagi Indonesia.

Stiglitz mencatat bahwa IMF dan Bank Dunia bukanlah penganut yang tidak punya perasaan terhadap ekonomi pasar. Pada waktu yang sama IMF menghentikan Indonesia untuk memberi subsidi pangan. Menurut IMF, "ketika bank-bank membutuhkan bail-out, intervensi (terhadap pasar) dapat diterima". IMF menumpahkan berpuluh milyar dolar untuk menyelamatkan para finansier Indonesia dengan tambahan pinjaman dana dari bank-bank Amenka dan Eropa.

Suatu pola muncul. Dalam sistem ini banyak yang rugi, tetapi ada satu pemenang : yaitu, bank-bank Barat dan departemen keuangan Amerika Serikat, yang menghasilkan keuntungan besar dari celengan modal internasional ini. Stiglitz menceriterakan pengalaman pertemuan pertamanya, ketika baru menjabat di Bank Dunia, dengan presiden baru Etiopia dalam rangka pemilihan umum demokratis yang pertama di negeri itu.

Bank Dunia dan IMF menginstruksikan Etiopia untuk mengalihkan uang bantuan ke rekening cadangannya di departemen keuangan Amerika Serikat, yang akan memberikan bunga 4%, sementara Etiopia meminjam kepada Amerika Serikat dengan bunga 12% untuk memberi makan rakyatnya. Presiden Etiopia yang baru memohon kepada Stiglitz agar uang bantuan itu dapat digunakan sendiri untuk membangun negerinya. Tetapi tidak, uang hasil rampokan itu langsung masuk ke kas departemen keuangan Amerika Serikat di Washington.

Kini kita sampai ke tahap keempat yang oleh IMF dan Bank Dunia diberi nama "Strategi Pengentasan Kemiskinan": yaitu, Pasar Bebas. Yang dimaksud ialah 'pasar bebas' berdasarkan aturan dari WTO ('World Trade Organization' - Organisasi Perdagangan Dunia') dan Bank Dunia. Stiglitz, orang dalam Bank Dunia itu menyamakan 'pasar bebas' dengan 'perang candu'. "Konsep itu bertujuan membuka pasar", katanya. "Persis seperti halnya pada abad ke-19, negara-negara Barat dan Amerika Serikat menghancurkan rintangan yang ada bagi perdagangan di Cina. Sekarang hal yang sama dilakukan untuk membuka pasar agar mereka dapat berdagang di Asia, Amerika Latin dan Afrika, sementara negara-negara Barat itu memasang tembok yang tinggi terhadap impor hasil pertanian dan produk manufaktur dari Dunia Ketiga".

Sebagai akibat program' pasar-bebas'. Para pengusaha kapitalis lokal terpaksa meminjam pada suku-bunga sampai 60 % dari bank lokal dan mereka harus bersaing dengan barang-barang impor dari Amerika Serikat atau Eropa, dimana suku-bunga berkisar tidak lebih dari antara 6 - 7 %. Program semacam ini berakibat mematikan kaum kapitalis lokal

Dalam 'Perang Candu', negara-negara Barat mengerahkan blokade militer untuk memaksa Cina membuka pasamya bagi perdagangan mereka yang tidak seimbang. Sekarang Bank Dunia dapat memerintahkan blokade keuangan, yang sama efektifnya seperti pada 'Perang Candu' - dan sarna mematikannya.

Stiglitz khususnya sangat emosional ketika membahas tentang pcrjanjian hak-hak intelektual (dalam bahasa Inggeris disingkat dcngan TRIPS). Menurut mantan Ketua Tim Ekonom Bank Dunia itu, 'Tata Dunia Baru' ('Novus Ordo Seclorum') itu pada telah "menjatuhkan vonis hukuman mati kepada rakyat sedunia", dengan cara memberlakukan tarif dan "upeti" yang tidak masuk akal yang harus dibayarkan kepada perusahaan obat-obatan yang punya merk. "Mereka tidak peduli", kata profesor yang bekerja-sama dl bidang urusan kredit bank dengan perusahaan-perusahaan obat-obatan itu, "apakah orang akan hidup atau mati".

Sebagian besar publik, terutama pemerintahan negara-negara di Dunia Ketiga masih memandang IMF dan Bank Dunia sebagai lembaga dengan wajah yang manusiawi, seperti yang dinyatakan dalam charter-nya, "turut-serta dalam upaya menghapuskan kemiskinan". Dalam kenyataannya, IMF lebih sukses berperan dalam menciptakan kemiskinan negara-negara yang sedang berkembang, ketimbang mengatasi kemiskinan yang mereka derita. Kalau ada yang menyangka ada konflik antara keduanya, antara IMF dan Bank Dunia, maka perkiraan itu keliru sekali.

Harap disini jangan sampai dibuat bingung ketika terjadi campur-aduk dalam pembicaraan mengnai IMF, Bank Dunia, dan WTO.
Lembaga-Iembaga itu sebenamya tidak lain hanyalah topeng yang dapat dipertukarkan yang berasal dari suatu sistem kekuasaan yang tunggal, kaum Zionis, sesuai keperluannya. Mereka terhubung satu dengan lainnya melalui suatu sistem yang mereka sebut "pemicu".

Ketika suatu negara memohon kredit kepada Bank Dunia untuk keperluan pendidikan, misalnya, maka permohonan tadi akan "memicu" suatu kebutuhan untuk menerima 'persyaratan' apa pun - yang mereka tetapkan rata-rata sebanyak 111 poin untuk setiap negara - yang ditetapkan secara sepihak oleh Bank Dunia dan IMF. Menurut Stiglitz, "IMF mengharuskan negara debitur menerima kebijakan perdagangan yang lebih bersifat punitif ketimbang aturan-aturan dari WTO".1

IMF dan Bank Dunia memang mempunyai misi yang sarna di Dunia Ketiga. Kenyataannya sederhana: Wall Street berdiri di belakang kedua lembaga ini. Mereka dijalankan oleh para bankir, umumnya bankir Yahudi. Harus diingat, mereka adalah pebisnis uang dan profiteur, bukan sosiolog anthropolog, apalagi kaum philanthropis.

Selain itu yang tidak banyak disadari orang ialah 'pasar bebas' pada hakekatnya adalah saudara kandung dari perang. Yang lebih penting lagi, masyarakat Dunia Ketiga pada umumnya gagal melihat hubungan erat antara gagasan pasar-bebas dengan kepentingan negara-neganl Barat. Misalnya, sedikit sekali organisasi yang mengkritik lembaga-lembaga produk Bretton Woods itu, dibandingkan dengan suara yang menentang serangan Amerika Serikat terhadap Afghanistan, misalnya mereka tidak menyuarakannya di Seattle (ketika konperensi APEC), dan juga tidak melakukannya di Washington, DC.

Mereka berkampanye menentang 'pasar bebas', menentang IMF, dan memihak kepada kampanye Jubilee untuk menghapus hutang Dunia Ketiga, tetapi tidak terhadap peperangan. 'Pasar bebas' dan perang berjalan bergandengan tangan. Sarna seperti halnya negara-negara Barat, seperti dikatakan Stiglitz di atas tadi, pada abad ke-19 memaksa Cina melakukan "perdagangan bebas opium", dan hal itu masih berlaku sekarang. Kalau dalam abad ke-19 negara-negara Barat mengeluarkan dalih "memberantas perompakan di laut" untuk menutup-nutupi agenda kolonialisme dan imperialisme mereka, dewasa ini Amerika Serikat berdalih "memerangi terorisme internasional" untuk mendapatkan konsesi pemasangan pipa minyaknya melalui wilayah Afghanistan.

Koordinasi antara negara-negara Barat dengan 'pasar-bebas' sangat jelas. Bisa dilihat contoh di Kosovo. IMF dan Bank Dunia telah merancang rencana ekonomi pasca-perang, termasuk 'pasar-bebas', bahkan jauh hari sebelum jatuhnya born pertama. Keduanya bergandengan tangan. Jika suatu negara menolak intervensi IMF, maka negara-negara Barat, dengan intervensi politik atau mengerahkan berbagai badan-badan rahasia dan kegiatan subversif, akan masuk. Tugas mereka menciptakan iklim yang kondusif bagi program-program IMF dan negara-negara Barat (baca: Zionis) untuk akhirnya dapat dilaksanakan di negara-negara tersebut. Negara seperti lndonesia menjadi contoh betapa program pinjaman hutang IMF makin menambah krisis yang memang sudah parah.

Negara-negara yang menerima apa yang disebut dengan nama "bantuan pinjaman" IMF, seperti Bulgaria dan Romania, termasuk Indonesia, mungkin tidak mendapatkan 'carpet bombing', tetapi mereka dihancurkan hanya dengan satu goresan pena. Bahasa badan tidak dapat menutup-nutupi pikiran yang ada di benak seseorang. Tentang hal itu, menarik memperhatikan keangkuhan gaya Camdessus, direktur eksekutif IMF untuk Asia-Pasifik, ketika ia menyaksikan presiden Republik Indonesia, Soeharto, terpaksa menanda-tangani Memorandum of Understanding dalam rangka memohon bantuan pinjaman IMF untuk Indonesia pada tahun 1998. Memorandum itu ternyata merupakan awal dari agenda penghancuran ekonomi Indonesia yang memang sudah terpuruk. Di Bulgaria IMF melakukan reformasi yang sangat drastis. IMF menghancurkan kondisi sosial : pensiun dipotong, pabrik-pabrik terpaksa ditutup, ada barang-barang produk pabrik yang di-dumping, penghapusan subsidi perawatan kesehatan dan subsidi transportasi secara cuma-cuma bagi rakyat, dan sebagainya.

Keprihatinan Stiglitz tentang rencana-rencana dari IMF dan Bank Dunia yang dirumuskan secara rahasia dan didorong oleh suatu ideologi dari kaum absolutis, dan yang tidak membuka peluang untuk diskusi atau penolakan. Meski negara-negara Barat mendorong pemilihan umum di seluruh negara-negara yang sedang berkembang, apa yang mereka sebut "Program Pengentasan Kemiskinan" sebenamya "merongrong demokrasi".

Dan program itu temyata tidak jalan. Produktivitas negara-negara Afrika Hitam di bawah bimbingan tangan "bantuan" struktural, IMF gagal total dan programnya hancur berantakan. Apakah ada negara-negara debitur yang mampu menghindari malapetaka ini ? "Ada", kata Stiglitz seraya menunjuk Botswana. Apa yang mereka lakukan? "Mereka menghardik IMF untuk berkemas-kemas meninggalkan negeri itu".

Lalu bagaimana cara membantu negara-negara yang sedang berkembang itu. Stiglitz mengusulkan adanya rencana land-reform yang radikal, serangan langsung ke jantung "pertuan-tanahan", pada harga sewa yang keterlaluan, yang dikenakan oleh oligarki pemilik tanah di seluruh dunia, lazimnya tidak kurang dari 50% dari hasil panen dari si penyewa tanah (sistem "paron").

Sebagai salah seorang mantan pejabat tinggi di Bank Dunia, apakah gagasan ini pemah diusulkan oleh Stiglitz? Kalau anda menantang (kepemilikan tanah), hal itu niscaya akan menimbulkan perubahan pada elit yang berkuasa. Karenanya, soal itu tidak masuk prioritas utama mereka". Setiap kali solusi dengan konsep 'pasar bebas' menemui kegagalan, menurut Stiglitz, IMF tidak lain hanya menuntut kebijakan "pasar yang lebih bebas".

"Halnya sama dengan di masa Abad Pertengahan", kata Stiglitz. "Tatkala sang pasien meninggal, mereka berkata, 'Ia terlalu banyak kehilangan darah, sebenarnya darahnya masih ada sedikit di tubuhnya'


Bantuan Ekonomi dan Kolonialisasi Gaya-Baru

Di Asia Tengah, Balkan, dan Kaukasus, reformasi dan program privatisasi dari IMF dan Bank Dunia berjalan bergandengan tang an bukan hanya dengan agenda negara-negara Barat, tetapi juga dengan operasi intelijen CIA, yang dilakukan seeara tertutup. Pengelolaan lembaga perang dan ekonomi dilakukan dengan interface satu dengan yang lain pada peringkat global.

Jadi pada saat ini berbagai negara dilemahkan dengan konflik-konflik regional dan domestik yang dibiayai oleh dana keuangan Barat, baik secara terbuka maupun seeara tertutup. Kosovo Liberation Army, Aliansi Utara di Afghanistan, (GAM di Aceh ?), hanyalah sekian contoh dari beberapa kasus, bagaimana gerakan insurgensi di suatu negara dibiayai oleh Barat. Konflik-konflik yang dimanipulasi di Kosovo, Afghanistan, Aceh, dan lain-lain, terjadi karena terdapat sumber daya alam dalam jumlah yang strategis, minyak dan gas bumi, ladang ganja dan obat bius, yang oleh CIA dikelola secara tertutup.

Pada gilirannya kepentingan ekonomi ini bermuara ke politik luar negeri resmi Ameriksa Serikat. Akhimya ujung-ujungnya ke IMF, Bank Dunia, dan bank-bank regional dan investor swasta. Perang Afghanistan adalah contoh nyata adanya mata-rantai yang kuat antara agenda untuk untuk menguasai minyak yang ada di perut bumi Cekung Kaspia (Caspian Basin) dengan rancangan membangun hegemoni politik di Asia Tengah dalam rangka mengamankan kepentingan minyak dan gas bumi bumi tersebut.

Peristiwa serangan 11 September 2001 terhadap gedung-kembar WTC New York yang menewaskan lebih-kurang 6.000 jiwa adalah suatu rekayasa politik yang luar biasa kejamnya yang dilakukan oleh kelompok 'rajawali' Yahudi di bawah pimpinan Paul Wolfowitz di departemen pertahanan Amerika Serikat, yang bekerja-sama erat dengan dinas rahasia Israel Mossad, untuk mendapatkan dalih "menghukum" Afghanistan sebagai "kambing hitam"-nya.

Semuanya berkaitan sebagai suatu mata rantai. Kecurigaan bahwa serangan terhadap gedung-kembar itu merupakan sebuah rekayasa sangat rahasia oleh pihak Amerika Serikat sendiri yang dibantu oleh badan intelijen Israel Mossad, bukan hanya dikeluarkan oleh Alexander Gordon, seorang analis keamanan Amerika Serikat, tetapi juga dari ulasan koran the Guardian dan BBC London, kantor berita teve Amerika 'Fox News', Vision TV Kanada, koran the Washington Post, bahkan datang dari pemerintah Jerman, sekutu Amerika Serikat sendiri.

Mari dicermati institusi global ini: ada sistem PBB dengan missi konon untuk "memelihara perdamaian" yang pembentukannya diprakarsai oleh tokoh-tokoh Zionis; mereka memainkan perannya melalui negara-negara Barat, khususnya Amerika Serikat. Dari situ ada IMF, Bank Dunia, dan bank-bank pembangunan regional seperti ADB, Asian Development Bank, dan sebagainya. Di Eropa ada the European Bank for Reconstruction and Development, serta WTO. Lembaga-lembaga ini merupakan kekuatan utama mereka.

Kadangkala perang diperlukan untuk menciptakan suatu kondisi yang kondusif, dan kemudian lembaga-lembaga ekonomi produk kaum Zionis itu akan masuk untuk memberesi keadaan yang berantakan. Sebagai misal, sesudah pemerintahan Taliban di Afghanistan jatuh, kelompok bankir Yahudi ini mengusulkan dibentuknya semaeam 'Marshall Plan' untuk "membangun kembali" infra-struktur negeri itu yang sudah hancur berantakan.

Atau.sebaliknya, IMF sendiri yang melakukan destabilisasi ekonomi seperti yang mereka lakukan di Indonesia. Mereka bersikeras menghapus subsidi pada berbagai kebutuhan publik di negara itu. Kini kebijakan itu berhasil melumpuhkan sebuah negara sebesar Indonesia yang terdiri lebih dari 17.000 pulau, dan berakhir dengan keterpurukan ekonomi yang kacau-balau. Keadaan geografinya dan persebaran sumber daya-alamnya yang tidak merata membuat ekonomi nasionalnya bukan menjadi sumber kesejahteraan, tetapi berubah menjadi suatu malapetaka. IMF meninggalkan kondisi ekonomi-keuangan negara kepulauan ini dalam keadaan berantakan dengan cara yang belum pernah dihadapi oleh orang Indonesia.

Apa yang telah diperbuat oleh IMF di Indonesia? Mereka bersikeras memotong uang yang seharusnya ditujukan untuk mensubsidi pemerintahan di daerah, misalnya di bidang pendidikan, dan sebagainya. Kebetulan mereka melakukan hal yang serupa di Brazil. Mereka mendestabilisasikan suatu negara, karena untuk menguasai suatu negara harus ada kesamaan fiskal, suatu sistem untuk transfer fiskal. Jadi di suatu tempat seperti di Indonesia, mereka mendorong sctiap daerah rrielalui kebijakan otonomi daerah yang infra-strukturnya tidak disiapkan lebih dahulu, masing-masing akhirnya berperilaku menjadi semacam negara bagian.

Dan tentu saja gagasan untuk masing-masing berdiri-sendiri menjadi sangat menarik bagi berbagai kelompok etnik di daerah yang berbeda-beda. Tentu saja mereka (yakni perancangnya di IMF) sadar sekali tentang hal ini - mereka melakukannya berulang-kali. Mereka hanya mendorong saja gagasan yang sudah ada. Hal itu terjadi di Yugoslavia, terjadi di Brazil; hal itu bahkan terjadi di bekas Uni Sovyet, dimana daerah-daerah dilepaskan begitu saja, karena Moskow tidak mampu memberi mereka uang. Kalau hal itu terjadi dimana rakyat dimelaratkan, mereka mulai saling membunuh. Terjadi pada setiap kelompok, pada kelompok-kelompok etnik, agama, dan kedaerahan, seperti di Indonesia.

Namun hal yang sarna bisa saja terjadi, seperti di Somalia, dimana tidak ada kelompok-kelompok etnik, tetapi skema IMF tetap berjalan. Tidaklah diperlukan adanya masyarakat multi-etnik untuk agenda memecah belah suatu bangsa, untuk melakukan Balkanisasi. Skema ini didasarkan pada agenda 'rekolonialisasi'.


Negara dan 'Teritori'

Negara-negara diubah menjadi teritori-teritori, persisnya koloni gaya baru. Apa beda negara dengan teritori ? Negara memiliki suatu pemerintahan, memiliki lembaga-lembaganya, ada anggaran, negara memiliki perbatasan ekonomi, dan memiliki lembaga seperti beacukai

Sebuah teritori, hanya memiliki pemerintahan secara nominal yang dikendalikan oleh IMF Tidak ada lembaga-lembaga yang otonom dan berdaulat, baik dari pemerintahan maupun swasta, karena telah diperintahkan tutup oleh IMF dan Bank Dunia. Tidak ada perbatasan, karena WTO telah memerintahkan pasar-bebas. Tidak ada industri atau pertanian, karena sektor-sektor ini telah didestabilisasikan sebagai akibat meningkatnya suku-bunga sampai 60 % per annum, dan hal itu akibat dari program IMF juga. Angka 60% itu bukan mengada-ada; di Brazil angka itu lebih tinggi. Pada tahun 1998 Indonesia mengalami hal serupa, Botswana menghadapi hal yang sama. Sukubunga seperti itu luar biasa tingginya.

Untuk mencapai hal itu IMF memasang batas ceiling kredit. Sehingga orang tidak mungkin mendapatkari pinjaman bank; bank-bank tidak mampu menjalankan peran intermediasi mereka keadaan suku-bunga meningkat, dan tentu saja hal itu secara pasti membunuh ekonomi setempat. Di Indonesia, IMF menuntut pelaksanaan kebijakan uang-ketat ('austerity program') dengan menaikkan suku-bunga obligasi bank sentral menjadi 17%, sehingga mendorong bank-bank komersial menaikkan suku-bunga kredit mereka. Untuk menambah keadaan menjadi lebih parah bank sentral Indonesia menuntut tiap bank yang ingin tetap hidup harus memiliki CAR (capital adequacy ratio) minimal 8%. Akibatnya bank-bank Indonesia berlomba-lomba mencari dana masyarakat, ketimbang menjalankan peran intermediasi mereka untuk mendorong kembali hidupnya ekonomi di sektor riel.

Untuk melawannya tidak mungkin dengan suatu gerakan topik tunggal. Tidaklah mungkin memfokuskan semata-mata pada lembaga-lembaga Bretton Woods, atau WTO, atau terhadap isu lingkungan, atau perekayasaan genetik. Perjuangan melawan "kolonialisme gayabaru" itu harus dalam hubungan totalitas. Tatkala menggunakan totalitas orang akan mampu melihat hubungan penggunaan kekuatan.

Di bawah sistem ekonomi seperti yang ada sekarang ini terhampar sendi-sendi orde kapitalis yang tertutup: industrial-military complex (catat; embargo Amerika Serikat terhadap peralatan militer Indonesia), kegiatan apparatus intelijen, dan kerja-sama dengan dan pengerahan kejahatan terorganisasikan (organized crimes), termasuk perdagangan narkotika untuk mendanai konflik-konflik internal di suatu negara dalam rangka membukakan pintu negara-negara Dunia Ketiga tersebut ke bawah kontrol komplotan Barat-Zionis.

Kini zamannya telah beralih dari gunboat diplomacy ke missile diplomacy. Sebenarnya istilah missile diplomacy tidaklah tepat. Yang ada adalah pemboman secara kasar dan primitif, seperti halnya ancaman dari utusan presiden Bush kepada pemerintahan Emirat Islam Afghanistan pada tahun 1999, tatkala Bush menghendaki tampilnya kembali bekas raja Mohammad Zahir Shah di Afghanistan sebagai tokoh pimpinan pemerintahan boneka, dan konsesi eksploitasi atas minyak dan gas bumi Afghanistan, serta pemasangan lintas pipa-minyak dari Turkmenistan ke Pakistan melalui wilayah Afghanistan dengan ancaman kasar, "Kalau anda setuju kami akan hamparkan 'carpet of gold', tetapi bilamana tidak, kami akan berikan anda 'carpet-bombing' ". Taliban menolak, dan mereka mendapatkan ganjaran, 'carpet-bombing' yang dijanjikan itu.


Money-Politics dan Penguasaan Elit Politik


Sebagian dari birokrasi sipil dan aparat intelijen militer di Dunia Ketiga terdiri dari para gangster dan kriminal2. Namun keadaan yang sebenarnya bila didalami jauh lebih rumit. Karena pada dasarnya para gangster itu tidak lebih dari instrumen dalam jaringan-kerja dari para pemodal besar internasional (baca: Yahudi). Mereka tidak menghalang-halangi sistem yang ada. Para gangster itu adalah orang yang dengan mudah dapat dipergunakan, karena mereka tidak bertanggung-jawab kepada konstituensi mereka, atau kepada siapa pun. Karena itu penggunaan mereka sangat bermanfaat.

Ambil misalnya ketika negara-negara Barat mendudukkan Hacim Thaci (pernimpin 'Tentara Pembebasan Kosovo') dalam pemerintahan di Kosovo, atau Abdul Hamid Karzai di Afghanistan. Jauh lebih mudah menempatkan gangster semacam mereka untuk memerintah negeri Kosovo atau Afghanistan, daripada mendudukkan seorang perdana menteri terpilih dengan integritas pribadi yang tinggi, yang bertanggung-jawab kepada konstituensinya. Yang terbaik adalah menempatkan seorang gangster-terpilih, seperti Boris Yeltsin (bagaimana dengan di Indonesia?), karena cara itu yang terbaik. Cari dan temp atkan seorang gangster-terpilih. Di pemerintahan Amerika Serikat sudah beberapa kali menempatkan gangster terpilih. Mengapa? Karena gangster-terpilih lebih mudah dikendalikan daripada seorang bukan-gangster yang diangkat.

Tetapi harus dimaklumi, para gangster ini merupakan kaki-tangan yang sangat menyolok - hal itu disebut sebagai kriminalisasi suatu negara. Sudah dapat dipastikan akan ada inter-penetrasi perdagangan yang legal maupun illegal. Dan perdagangan ilegal selalu berada dalam bisnis dan keuangan berskala besar. Pemimpin yang mendapatkan dukungan luas dari rakyat oleh negara-negara Barat tidak dikehendaki. Sebagai contoh bekerjanya anasir Zionis melalui jaringan klandestin, baik melalui partai-partai politik yang korup, badan-badan LSM kiri, kelompok 'theologi pembebasan' Katolik Jesuit yang kekiri-kirian, serta kaum anarkis, telah berhasil menyingkirkan tokoh yang memiliki integritas dan kompetensi. Pemimpin yang memiliki integritas dari segi kepentingan Zionisme secara politik tidak-dikehendaki. Itulah yang terjadi dengan nasib presiden B.J.Habibie dari Indonesia, yang ditendang keluar, bahkan oleh partainya sendiri.

Aspek penting dari kegiatan klandestin IMF adalah menciptakan kondisi untuk membiakkan perdagangan ilegal dan untuk mencuci uang di seluruh dunia. Hal itu sangat jelas, karena ketika ekonomi legal jatuh terpuruk akibat reformasi IMF, lalu apa yang tersisa. Yang tersisa adalah ekonorni-kelabu, ekonomi kriminal. Hal itu mendorong perkembangan kekuatan ekonomi ilegal yang akan digunakan untuk menggantikan kekuatan ekonomi legal yang secara potensial lebih bertanggung-jawab.

Keruntuhan sistem ekonomi yang legal di suatu negara menciptakan juga kondisi untuk perkembangan insurjensi, destabilisasi pemerintah terpilih, penutupan lembaga-lembaga, dan perubahan negara menjadi sekedar sebuah teritori, yang kemudian dikendalikan layaknya sebuah koloni. Indonesia dilihat dari berbagai indikasi obyektif, layak untuk dimasukkan ke dalam kartegori 'koloni gaya-baru' dari negara-negara Barat.


Kasus - "Suatu Model Membuka Kosovo untuk Modal Asing"

Di daerah pendudukan Kosovo yang berada di bawah mandat pasukan penjaga-keamanan PBB, "terorisme oleh negara" dan kaum pembela "pasar-bebas", berjalan bergandengan tangan. Kriminalisasi oleh lembaga-lembaga negara yang terus berlangsung bukannya tidak sesuai dengan sasaran-sasaran ekonomi dan strategi Barat di Balkan.

Tanpa memperhitungkan kejahatan pembantaian rakyat sipil, pemerintahan KLA yang memproklamasikan diri-sendiri telah memberikan komitmennya untuk membentuk suatu "pemerintahan yang aman dan stabil" bagi para investor asing dan lembaga-lembaga keuangan internasional Yahudi, yang didukung oleh negara-negara Barat, dan lembaga-lembaga keuangan yang berbasis di New York dan London. Mereka telah melakukan analisis tentang konsekwensi bila suatu intervensi militer terjadi dengan akibat perlunya pendudukan Kosovo, hampir setahun sebelum terjadinya perang. Konsep ini diulang kembali di Afghanistan pada tahun 2001. IMF dan Bank Dunia telah melakukan suatu 'simulasi' yang 'mengantisipasi kemungkinan skenario darurat berlaku sebagai akibat ketegangan-ketegangan yang ada di Kosovo'.

Tatkala pemboman masih berlangsung, Bank Dunia dan Komisi Eropa memperoleh sebuah mandat khusus guna 'mengkoordinasikan para donor' untuk bantuan ekonomi di Balkan. Muatan 'terms of reference' tidak mengeluarkan Yugoslavia dari daftar penerima bantuan donor tersebut. Hal itu dengan jelas menegaskan bahwa Belgrado berhak untuk mendapatkan pinjaman pembangunan "begitu keadaan politik disana berubah". Sehubungan dengan Kosovo, alih-alih memberikan pinjaman untuk membangun kembali infra-struktur propinsi Kosovo, IMF dan Bank Dunia malah lebih memusatkan intervensinya dengan pemberian 'bantuan dalam merancang rekonstruksi dan program recovery' serta apa yang dinamakan 'nasehat kebijakan dalam manajemen ekonomi' dan 'pembangunan kelembagaan' khususnya 'pemerintahan'. Dengan kata lain, sepasukan ahli hukum dan konsultan dikirimkan untuk menjamin transisi Kosovo 'membangun suatu ekonomi pasar yang hidup, terbuka, dan transparan'. Bantuan yang diberikan kepada pemerintahan sementara Kosovo akan diarahkan menuju 'terbentuknya lembaga-lembaga yang transparan, efektif, dan berkelanjutan'. 'Pemberdayaan lingkungan' bagi investasi modal asing akan dibentuk sejajar dengan pembentukan 'jaringan keselamatan sosial' dan 'program pengentasan kemiskinan'.

Sementara itu bank-bank milik negara Yugoslavia yang beroperasi di Pristina ditutup. Mata-uang Deutschmark ditetapkan sebagai alat tukar yang sah, dan sistem perbankan dialihkan kepada Commerzbank AG Jerman, yang menjadi pemegang saham tunggal swasta di dalam Micro Enterprise Bank (MEB milik Kosovo) yang dibentuk pada awal tahun 2000 dengan pemrakarsa International Finance Corporation (milik Bank Dunia), the European Bank for Reconstruction and Development (EBRD), bersama dengan Nederlandse FinancieringsMaatschappij voor Ontwikkelingslanden (FMO). Internationale Micro Investitionen (IMI milik Jerman), dan Kredit Anstalt fuer Wiederaufbau (KW juga milik Jerman). Jadi pihak Jerman (Commerzbank AG, milik Yahudi) akan menjalankan kontrol atas fungsi-fungsi perbankan untuk propinsi Kosovo termasuk transfer keuangan dan transaksi luar negeri.

Dalam karakter yang sarna para komprador IMF di Indonesia tengah gencar-gencarnya menjual aset-aset publik yang selama ini berperan sebagai money-machine bagi Indonesia dengan harga obral-obralan, seperti BCA, Telkom, Semen Gresik, perkebunan kelapa sawit eksmilik Salim Grup, dan lain-lain kepada pihak asing. Para bidder domestik dalam proses tender itu tidak digubris. Tidak salah bila Prof.Chossudovsky memasukkan Indonesia ke dalam kategori "teritori" dari kekuatan keuangan Zionisme.3


Daftar Pustaka:

1. Greg Palast, 'The Globalizer Who Came In From the Cold', the Observer, London, October 10,2001.
2. Lloyd, 'Modern Indinesia in Transition', Australian National University, 2002.
3. Prof. Michel Chossudovsky, 'The IMF and World Bank: Two Instruments of National Destruction " University of Ottawa, 2000.